Pindah Kuadran

March 24, 2012

Saya merasa terhormat ketika secuplik perjalanan hidup saya dituliskan dengan penuh gegap gempita oleh mas Yodhia di blog Strategi+Manajemen.

Kita harus mengakui bahwa mas Yodhia adalah story teller yang jempolan, sebuah perjalanan sederhana menjadi gegap gempita ditulisnya.

Wajar jika tiap Senin pagi banyak orang yang menantikan tulisannya, puluhan ribu orang menjadi pembaca setia blog Strategi+Manajemen.

Secuplik perjalanan hidup tersebut adalah ketika saya berpindah kuadran dari seorang staf IT kontrak di sebuah perusahaan multinasional (Pfizer) dan memutuskan resign, berpetualang menjadi wiruasahawan.

Menarik menyimak berbagai komentar dalam tulisan tersebut, khususnya ketika banyak orang bertanya dan menyampaikan pendapat mengenai bagaimana baiknya proses berpindah kuadran tersebut dilakukan.

Saya tidak punya jawaban yang ces pleng untuk menjawab bagaimana sebaiknya agar proses pindah kuadran berlangsung mulus. Kemampuan dan mental seseorang tentu saja berbeda; jalan yang saya lalui (dan terus saya perjuangkan sampai hari ini), besar kemungkinan tidak cocok bagi orang lain.

Disini saya coba berbagi apa yang saya ingat ketika saya berpindah kuadran 6 tahun yang lalu, almost.

Saya tidak punya alasan (kuat) lain ketika saya ingin resign waktu itu selain saya merasa letih dengan ritual berangkat kerja pagi dan pulang kembali ketika hari sudah gelap.

Kegaduhan jalanan Jakarta juga membuat saya makin kehilangan akal dan terus bertanya, sampai kapan saya mau begini. Waktu itu saya naik motor Bekasi-Sudirman, kira-kira 2 jam perjalanan.

Setelah resign (Nov 2006), saya masih mengajukan lamaran kerja melalui berbagai situs lowongan kerja, namun terus terang saja tidak terlalu serius karena memang dalam hati kecil ingin berusaha sendiri.

Waktu itu saya belum menikah dan tabungan juga tidak seberapa, hanya mampu buat hidup 3 bulan.

Satu hal yang saya tegaskan ke keluarga dan orang tua bahwa saya bisa membiayai hidup saya sendiri. Penegasan ini juga diiringi tindakan; saya mulai mengerjakan apapun yang bisa menghasilkan.

Saya mulai mengerjakan project IT (subkon), tapi cuma 1 project yang hadir. Saya mulai membuka usaha isi ulang tinta, Rumah Tinta. Cuma berlangsung 3 bulan dan bangkrut.

Di tengah kegalauan ini, saya menikahi istri saya pada Juni 2007. Enam bulan pertama saya masih serabutan.

Sampai akhirnya Desember 2007, saya bersama istri meluncurkan Pasarbatik.com dan alhamdulillah terus berkembang sampai sekarang.

Saya belajar banyak hal.

Tahun 2010, saya mendirikan OutletDinar. Dan awal tahun 2012 ini, kendali bisnis batik sepenuhnya ditangani oleh istri, saya fokus mengembangkan usaha investasi emas.

Tentu saja saya masih jauh dari sukses, namun saya menikmati petualangan ini.

Saya percaya bahwa berpindah kuadran adalah sesuatu yang ‘sederhana’, hanya memerlukan kebulatan tekad dan yakin bisa menaklukkan tantangan didepannya.

Saya tidak ada rencana yang kuat waktu resign. Tabungan juga tidak seberapa. Keluarga tidak sepenuhnya tahu apa yang saya lakukan; mendukung penuh rasanya tidak, namun menolak secara keras juga alhamdulillah tidak.

Kualitas hidup saya menurun drastis setelah resign; makan bisa cuma sekali sehari dan seringkali seporsi berdua istri.

Alhamdulillah istri tidak mengeluh, meskipun saya tahu dari raut mukanya kala itu kalau dia agak sedih dan khawatir.

Kualitas hidup baru beranjak membaik ketika saya mendirikan Pasarbatik dan alhamdulillah terus naik sampai sekarang.

Kalau ditanya mengenai tips bagaimana pindah kuadran. Sungguh saya tak punya.

Saya cuma bisa mengatakan, jika memang sudah yakin dan bulat tekad, ya lakukan saja.

Persiapan secanggih apapun bisa jadi tidak ada gunanya karena tantangan di depan seringkali tidak terduga. Justru disinilah ‘kehidupan’ sesungguhnya.

Manusia adalah makhluk paling adaptif. Pasti bisa menuntaskan tantangan seberapapun beratnya, insyaAllah.

Ambil kendali terhadap hidup kita dan bertanggungjawablah terhadap apa yang kita putuskan untuk dijalani.

Yakinlah, Allah SWT selalu menyertai.

*photo credited to Fedori Natalia.

2 Comments
September 14, 2012 @ 10:44 am

kebulatan tekad dan semangat semua masalah pasti ada jalannya, nice share pak

August 6, 2013 @ 10:06 am

wah, keren pak atas keberaniannya pindah kuadan. sesuatu yang sampai saat ini saya belum berani melakukannya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*



You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>