in General

Saya Suka… Saya Harap…

Dalam banyak kesempatan, saya sering merenungkan apakah benar ada kritik yang membangun ketika kritik tersebut diutarakan secara ‘semena-mena’.

Dalam kalimat lain, apakah benar ada kritik yang kemudian bisa diterima dengan baik oleh yang dikritik, mendatangkan perenungan dan melahirkan tindakan, sementara kritik tersebut disampaikan secara pedas dan menyakitkan.

Dalam banyak komunitas, milis dan perkumpulan lain, kita menyaksikan kritik menjadi semacam pelampiasan syahwat; pengkritik yang digdaya dan objek kritikan yang terpojok.

Alih-alih mengharapkan perubahan, yang lahir malah resistensi dan cideranya hubungan.

Jadi, adakah kritik yang fun dan bisa mendorong perubahan?

Ternyata ada. Menghadirkan kritik yang mendorong perubahan dan tetap fun kunci utamanya cuma ada di masalah bagaimana kita menyampaikannya, berdasar pada suasana hati yang paling dalam dari yang menyampaikan kritik.

Pada sebuah acara mentoring bisnis, kami pernah melakukan semacam permainan yang kami sebut sebagai: saya suka, saya harap.

Permainan ini menempatkan salah satu dari kami di tengah arena dan yang lain melingkarinya.

Satu persatu kawan yang melingkari menyampaikan masukan kepada kawan yang di tengah dengan ‘format': saya suka… saya harap….

Kawan yang ditengah saling bertukar pandang dan berhadapan persis dengan yang menyampaikan kritik.

“Saya suka mas Ali ini orang taktis dan cekatan. Tiap punya ide, bisa langsung dieksekusi dengan baik.”

“Saya juga suka mas Ali orangnya supel, gampang akrab dengan orang.”

“Yang saya harap dari mas Ali agar bisa menjaga kesehatan, menjaga pola makan. Saya harap mas Ali juga bisa belajar berkata tidak, sehingga tidak semua permintaan orang diikuti, belajar untuk berprioritas.”

“Saya harap mas Ali juga tidak gampang meledak-ledak, bisa mendengar dan menyimak ide orang lain, mengurangi kadar keras kepalanya.”

Karena penyampaian kritik ini dieksekusi dalam format permainan dan format penyampaian yang fun dalam bahasa yang juga tidak memojokkan; kita semua jadi ikut fun, tidak merasa terintimidasi dengan kritik, bahkan saling menimpali dengan celetukan yang pedas, namun rasanya tidak ada yang sakit hati, semua saling menyampaikan secara jujur dan merenungkan dengan legowo.

Menurut saya, tiga faktor yang bisa membuat proses kritik membangun ini berhasil adalah: kedekatan personal, disampaikan dengan bahasa yang positif dan fun, serta suasana hati yang dibangun antara pengkritik dan yang menerima kritik.

Tentu saja permainan, berbeda dengan situasi nyata. Namun jika tiga faktor di atas bisa dijadikan acuan dalam kita bersosial, maka mestinya hidup ini tak ubahnya seperti permainan.

Saya suka… saya harap. Kalimat ini saja sudah mendemonstrasikan suasana kerendahan hati dari yang menyampaikan kritik. Maka wajarnya yang diberikan kritik juga bisa menerimanya dengan baik.

Silahkan dicoba, saya juga masih terus berupaya. Semoga bermanfaat.

*photo credited to [selvin]

Saya tengah membangun kebiasaan menulis dengan apdet artikel di blog ini setiap hari Rabu dan berencana melakukannya selama 365 hari (30 Juli 2014 s/d 30 Juli 2015). Jika Anda ingin ikut serta menyemangati saya, silahkan bergabung melalui halaman Get Updates. Thanks :)

Write a Comment

Comment

  • Related Content by Tag