The Power of Big Number

March 27, 2012

Membeli 250 juta kg kopi (terbaik) per tahun dari seluruh dunia.

Apa yang langsung terbayang oleh Anda dengan angka yang cukup besar ini? Foto di atas mungkin memberikan sedikit petunjuk bagi kita darimana angka tersebut datang.

250 juta kg kopi (dan terus bertambah) adalah angka kebutuhan Starbucks akan kopi berkualitas untuk menjalankan bisnisnya setiap tahun di seluruh dunia. Angka ini saya dapat dari buku Onward yang tengah saya baca.

Dengan kebutuhan yang demikian besar, Starbucks bisa ‘memaksa’ petani kopi di dunia untuk mengolah dan menghasilkan kopi sesuai standar kualitas yang Starbucks terapkan: memperhatikan keseimbangan alam, membayar petani dengan angka di atas kewajaran, membantu komunitas setempat menuju kehidupan lebih baik, dll.

Dengan angka kebutuhan yang cukup besar, Starbucks bisa ikut mendorong bahwa yang paling berhak sejahtera adalah petani kopi dan bukannya cukong-cukong yang menguasai distribusi.

Dengan angka kebutuhan yang demikian besar, maka wajar jika banyak petani antri untuk ikut menjadi supplier dan manut saja terhadap standar kualitas dan pengolahan kopi yang Starbucks terapkan.

Alih-alih menghargai kopi para petani dengan harga di bawah pasaran, sesuatu yang biasanya terpikir oleh kita jika kita membeli dalam jumlah besar, (konon katanya) Starbucks malahan membeli dengan harga di atas pasaran dan lebih berkonsentrasi untuk bisa menjual kopinya dengan harga istimewa kepada para pelanggannya.

Ini mungkin sebabnya secangkir kopi Strabucks terasa mahal oleh saya ;)

Dengan mendukung pola perdagangan yang sedemikian rupa ini, maka wajarlah jika Starbucks (dan para mitranya) bangga, begitupun dengan para pelanggannya. Mereka menyebutnya sebagai Fair Trade.

Semestinya, minimal ada 2 pelajaran yang bisa kita petik dari hal ini:

Pertama, angka besar adalah angka besar. Banyak yang bisa kita perbuat jika kita bisa menghasilkan angka besar.

Bukan hanya untuk kepentingan kita, namun juga lingkungan dekat, komunitas jauh yang masih terkait, masyarakat luas dan pada akhirnya turut mempercantik wajah dunia.

Kedua, alih-alih menekan harga serendahnya pada para supplier yang mendukung bisnis kita, kita mestinya bisa memberikan harga yang (sedikit di atas) wajar bagi para supplier.

Pastikan bahwa supplier masih punya budget yang cukup untuk mengimprove usaha dan produk mereka dari marjin yang dihasilkan oleh pembelian kita.

Jika supplier bisa menumbuhkembangkan bisnisnya dengan baik, maka bisnis kita juga bisa ikut terdorong berkembang dengan baik.

Konsentrasikan pikiran dan tenaga kita untuk bisa memberikan nilai tambah sebesarnya pada produk yang kita jual, sehingga pelangganpun bersedia membayarnya dengan harga yang istimewa.

Inilah bisnis yang ‘sesungguhnya’.

Mari beramai-rama kita ciptakan angka besar.
Bukan cuma tubuh yang besar. #uhuk

*photo diambil dari sini

1 Comment
June 24, 2013 @ 8:27 am

informasinya bermanfaat sekali nih gan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*



You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>